Jumat, 05 Juni 2009

kebutuhan konseling neonatus dan bayi

KEBUTUHAN KONSELING PADA NEONATUS & BAYI

poltekes depkes bandung perwajur karawang,,kebidanan

Disusun Oleh :

· Muthia Muthmainah

· Putri Damayanti

· Rani Dini Pertiwi

Jalum 1B

PADA NEONATUS

NO

FISIOLOGIS

PATOLOGIS

KONSELING

1

Sistem Respirasi:

BBL mulai nafas rata-rata 30 detik setelah kelahiran, Frekuensi nafas pertama kali 80x /menit tetapi berangsur turun menjadi 40x/menit.

a. Dispnea= susah nafas yang ditunjukan dengan adanya retraksi dinding dada.

b. Bradipnea = frekuensi pernafasan lambat abnormal, tapi iramanya teratur.

c. Apnea = tidak ada pernafasan

d. Asfiksia Neonatorum = bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir

1. Menjelaskan kapan sebaiknya bayi segera dibawa ke petugas kesehatan jika menemukan tanda dan gejala nafas cepat, sesak nafas.

2. Amati dan evaluasi pemahaman Ibu.

2

Pengaturan Suhu :

BBL belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga ia akan mengalami stress dengan adanya perubahan lingkungan dari dalam rahim ke lingkungan luar yang suhunya lebih tinggi. Suhu bayi = 36,5 – 37,5 °C

a. Suhu bayi hipotermi= < style="font-family: ">°C

b. Suhu bayi hipertermi = > 37,5 °C

1. Ajarkan ibu tentang cara menghangatkan, memandikan bayi, dan memberikan ASI. Seperti : menyelimuti bayi, menjemurnya dibawah sinar matahari pagi jam 08.00 – 09.00, memandikan bayi dengan air hangat, dll.

2. Memberi dorongan dan memberi pujian pada ibu yang telah dengan benar melakukan pedoman tindakan yang diajarkan.

3. Memberitahu kepada ibu tentang kapan melakukan kunjungan ulang.

4. Menjelaskan kepada ibu segera membawa bayinya ke petugas kesehatan jika menemukan tanda dan gejala abnormal misalnya badan bayi teraba dingin atau panas yang tidak turun-turun.

5. Amati dan evaluasi pemahaman ibu.

3

Sistem Integumen :

a. Pada BBL kulit merah, licin, dan terdapat vernix (lemak putih di badan pada saat bayi baru lahir)

b. Ikterus fisiologis adanya warna kuning pada usia 3-14 hari dan tidak ada tanda / gejala pada ikterus patologis.

a. Kulit kering pada daerah bibir, tangan, atau genital yang menunjukkan adanya dermatitis kontak.

b. Kulit mengelupas atau bersisik pada jari-jari tangan atau kaki, menunjukkan adanya eksim, dermatitis, atau infeksi jamur.

c. Adanya pembengkakan (edema) kulit

d. Ikterus patologis adanya kuning pada hari k-2 setelah lahir atau ditemukan pada hari ke-14 atau ditemukan pada bayi yang kurang bulan, gejalanya : tinja berwarna pucat, serta pada daerah lutut dan sikut tampak sekali warna kekuningannya.

1. Menjelaskan kepada ibu tentang cara yang tepat menyinari bayi dengan cahaya matahari.

2. Menjelaskan kepada ibu tentang pemberian ASI sesering mungkin.

3. Menjelaskan pentingnya IMD dan pemberian kolostrum pada bayi baru lahir, untuk mencegah dan melindungi bayidari kuning.

4. Memberitahu ibu tentang kapan melakukan kunjungan ulang

5. Menjelaskan kepada ibu segera membawa bayinya ke petugas kesehatan jika terjadi pembengkakan pada kulit, perubahan warna kulit (kebiruan atau kuning), dan jika kuning kulit bertambah yang berarti kondisi bayi bertambah parah.

6. Amati ibu untuk memperagakan cara menyinari bayi yang benar dan evaluasi pemahaman ibu. Bayi dijemur di bawah sinar. matahari pagi sekitar pukul (08.00 – 09.00) kurang lebih selama 15 menit.

4

Gerakan dan tangisan BBL :

Setelah lahir, bayi menangis dengan kencang

a. Tidak adanya tangisan.

1. Bidan memberikan rangsangan kepada bayi untuk mengetahui rangsangan tangisannya.

2. Jelaskan kepada ibu jika menemukan kelainan seperti bayi tidak pernah menangis harus segera dilaporkan kepada petugas kesehatan.

3. Memberitahukan kepada ibu mengenai kunjungan ulang

5

Hasil pengukuran antropometri dari BBL :

a. Berat badan = 2500-3500 gr

b. Panjang bayi = 48-52 cm

c. Lingkar dada = 30-38 cm

d. Lingkar kepala = 33-35 cm

e. Lingkar lengan = 9,5 cm

a. BB < style=""> = BBLR

b. BB > 3500 gr= macrosomia

c. Lingkar kepala < 3cm dari lingkar dada = mikrosefali (pertumbuhan otak mengecil yang abnormal)

d. Lingkar kepala > 3cm dari lingkar dada = hidrosefali karena adanya sumbatan aliran cairan serebrospinalis.

e. Caput saccedaneum akibat mengejan sebelum waktunya.

f. Cepal hematum akibat pemeriksaan dalam.

Konseling BBLR :

1. Mengajarkan kepada ibu cara memberikan ASI dengan benar

2. Kurangi makanan atau minuman selain ASI dan lakukan pemberian ASI sesering mungkin

3. Beri penjelasan kepada ibu kapan bayi harus segera dibawa ke petugas kesehatan serta menjelaskan kunjungan ulang dilakukan setelah 7 hari

4. Amati dan evaluasi pemahaman ibu

6

Bayi lahir cukup bulan (Aterm)

Minggu ke 38-42

a. Preterm

b. Postterm

1. Memberikan informasi pada ibu mengenai pemberian pengawasan yang ekstra karena rentan terjadinya komplikasi.

2. Pemberian ASI eksklusif.

7

Sistem reproduksi :

a. Pada wanita, labia mayora menutupi labia minora

b. Pada laki-laki, testis sudah turun ke dalam skrotum

a. Hipospadia (orificium uretra di ventral penis).

b. Epispadia (muara uretra pada dorsal penis).

c. Undencencus testisculorum = testis tidak turun ke dalam skrotum.

d. Pada wanita, menyatunya lubang uretra dan lubang vagina.

e. Atresia ani (tidak ada lubang anus)

1. Menjelaskan kepada ibu tentang merujuk ke rumah sakit atau membawa bayinya ke petugas kesehtan jika terdapat kelainan pada alat genetalia bayinya.

2. Amati dan evaluasi pemahaman ibu

8

Sistem gastrointestinal dan urinari :

a. B.A.K keluar dalam waktu 12 jam

b. B.A.B keluar dalam waktu 24 jam pada BBL

c. Bayi mengeluarkan feses cair antara 6-8 kali per menit

a. Diare

b. Obstipasi / Konstipasi, bisa disebabkan karena pemberian susu yang terlalu kental

c. Frekuensi pengeluaran feses meningkat serta adanya lendir atau darah

1. Menjelaskan pada ibu tentang pemberian ASI lebih sering dan lebih lama setiap meneteki serta tingkatkan pemberian cairan seperti oralit atau air matang jika diare sesuai derajat dehidrasinya.

2. Untuk kasus diare, pemberian susu rendah laktosa dengan jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan lumat.

3. Menjelaskan pentingnya IMD dan pemberian kolostrum pada bayi baru lahir, untuk mencegah dan melindungi bayidari kuning.

4. Memberitahu ibu tentang kapan melakukan kunjungan ulang.

5. Menjelaskan kepada ibu segera membawa bayinya ke petugas kesehatan jika terdapat feses yang bercampur dengan darah.

6. Amati dan evaluasi pemahaman ibu.

9

Sistem Kekebalan Tubuh / Immunitas :

Sistem imunitas BBL masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi.

a. Tetanus Neonatorum, disebabkan oleh adanya infeksi melalui tali pusat

b. Dipteri, Campak, Hepatitis

c. Tuberkulosis

d. Typhus Abdominalis

1. Menjelaskan kepada ibu tentang cara mencegah infeksi melalui tali pusat yaitu dengan menjelaskan cara perawatan tali pusat dengan hati-hati dan benar.

2. Menjelaskan kepada ibu agar menjaga kebersihan tubuh bayi dengan rutin dan hindari bayi dari kontak dengan orang sakit.

3. Menjelaskan kepada ibu tentang pemberian imunisasi yang tepat dan sesuai dengan jadwal.

4. Memberitahu kepada ibu tentang kapan melakukan kunjungan ulang

5. Menjelaskan kepada ibu segera membawa bayinya ke petugas kesehatan jika menemukan tanda infeksi yang lebih berat,misalnya badan bayi demam (teraba panas), atau ditemukannya nanah ataupun kemerahan yang menetap atau bertambah parah.

6. Amati dan evaluasi pemahaman ibu

10

Sistem Peredaran Darah dan Jantung :

a. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung

b. Bunyi jantung BBL 180x/menit tapi setelah nafas turun menjadi 120-140x / menit.

c. Vena umbilicus, duktus venosus dan arteri hipogastrika dari tali pusat menutup secara fungsional dalam beberapa menit setelah lahir dan setelah tali pusat diklem.

a. Kelainan katup jantung, penutupan foramen ovale yang tidak sempurna

b. Takikardi = frekuensi deyut jantung sangat tinggi ( > 200x /m).

c. Bradikardi = frekuensi denyut jantung yang lambat.

1. Memberikan penjelasan kepada ibu bahwa bayi dengan kelainan katup jantung harus dirujuk ke rumah sakit .

2. Menjelaskan kepada ibu segera membawa bayinya ke petugas kesehatan jika menemukan tanda dan gejala takikardi atau bradikardi.

3. Amati dan evaluasi pemahaman ibu

PADA BAYI

NO

FISIOLOGIS

PATOLOGIS

KONSELING

1

Refleks dan Sistem Neurologi :

a. Berkedip (jika ada rangsangan cahaya), dijumpai pada tahun pertama.

b. Tanda Babinzki, jari kaki mengembang dan ibu jari kaki dorso fleksi dijumpai sampai usia 2 tahun.

c. Refleks Morro, kaget pada sentakan, lebih kuat selama 2 bulan dan menghilang pada 3-4 bulan.

d. Refleks Rooting, refleks mencari puting susu ibu.

e. Refleks Sucking, refleks menghisap, bayi menghisap denagn kuat.

f. Refleks Swallow, refleks menelan.

g. Refleks Grasping, refleks menggenggam, jari-jari bayi melengkung di sekitar jari yang diletakkan di telapak tangan bayi.

a. Jika tidak dijumpai berkedip menunjukkan kebutaan.

b. Pengembangan jari kaki setelah usia 2 tahun.

c. Refleks yang menetap lebih dari 4 bulan. Tidak ada respon ekstremitas bawah, dislokasi pinggul, atau cedera medulla spinalis.

d. Tidak adanya refleks , gangguan neurologis.

e. Tidak adanya reflex.

f. Tidak adanya reflex.

g. Fleksi yang tidak simetris menunjukkan adanya paralisis.

1. Menjelaskan kepada ibu tentang pemberian ASI sesering mungkin yaitu pada siang dan malam atau setiap waktu sampai bayi tidak mau menyusui.

2. Menjelaskan kepada ibu tentang cara meneteki dengan benar. Amati ibu dan minta untuk mempraktekkannya.

3. Memberitahu ibu tentang kapan melakukan kunjungan ulang.

4. Menjelaskan kepada ibu agar segera membawa bayinya ke petugas kesehatan jika ditemukan gerak bayi kurang atau tidak normal, dan malas atau tidak bisa menetek atau minum.

5. Amati dan evaluasi pemahaman ibu.

2

Kadar immunoglobulin total pada bayi mencapai titik rendah pada sekitar 4-5 bulan kehidupan pasca lahir.

a. Difteria ( infeksi / peradangan pada alat – alat pernafasan, vulva, telinga, atau kulit.

b. TBC .

c. Campak.

d. Hepatitis B (penyakit hati/kuning).

1. Diberikan imunasi DPT 3X, dimulai pada umur 3 bulan.

2. Diberikan imunisasi BCG (segera setelah lahir sampai umur 1 tahun)

3. Imunisasi campak (pada umur 9 bulan)

4. Imunisasi Hepatitis B (segera setelah lahir)

3

Tumbuh kembang bayi :

a. Usia 2-6 bulan ; Kemantapan kepala saat duduk, Duduk tanpa bantuan, memegang mainan, mengoceh satu suku kata, menatap pada tangannya sendiri

b. Usia 6-12 bulan ; tengkurap, mengikuti perintah satu tindakan dengan gerakan, berjalan sendiri, berbicara kata yang sesungguhnya pertama kali,

c. Usia 12-18 bulan ; lari, mencorat-coret, bermain membangun menara kubus, berbicara 10-15 kata, menggunakan batang untuk meraih mainan

d. Usia 18-24 bulan ; berjalan naik tangga dengan satu tangan dipegang, meniru coretan vertikal, mengidentifikasi satu atau lebih bagian tubuh, makan sendiri, berlari baik, melipat kertas mengikuti lipatan yang sudah ada, memegang sendok dengan baik, membantu membuka pakaian, mengajukan 3 kata bersama (subjek, kata kerja, objek)

a. Kelainan mental ; autis, hiperaktif

b. Kelumpuhan atau cacat

c. Kebutaan

d. Bisu

e. Tuli

1. Menjelaskan kepada ibu untuk selalu memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi sesuai dengan usianya

2. Menjelaskan kepada ibu agar segera membawa bayinya ke petugas kesehatan jika menemukan kelainan atau keganjilan pada petumbuhan dan perkembangan anaknya

3. Jika terdapat kelainan pada tumbuh kembang bayi, Bidan memberikan dukungan pada ibu untuk bersabar dan menerima anaknya apa adanya serta tetap memberikan kasih sayang dan motivasi pada anaknya untuk tetap maju dan berprestasi.

4

Kebutuhan Nutrisi :

a. Air,

Konsumsi cairan harian oleh bayi sehat 10-15% berat badan

b. Kalori,

Kebutuhan harian sekitar 80-120 kcal/kg selama usia 1 tahun pertama, dengan selanjutnya menurun sekitar 10 kcal/kg untuk setiap periode 3 tahun berturut-turut.

c. Karbohidrat,

d. Protein,

e. Lemak

f. Mineral ; Besi, Iodium, Seng

g. Vitamin

h. ASI,

Banyak bayi lapar kembali dalam 2 jam setelah menyusu dengan puas. Pasokan susu dikatakan cukup jika bayi puas setiap periode menyusui, tidur 2-4 jam, pertambahan berat sesuai.

i. MPASI,

Kebanyakan bayi sedikit demi sedikit mengurangi volume dan frekuensi kebutuhan dan ASI-nya pada usia 6-12 bulan, dan mereka menjadi terbiasa dengan menambah jumlah makanan padat dan cairan dengan botol dan cangkir.

a. Dehidrasi

b. Kekurangan gizi, Berat badan kurang

c. Pertumbuhan dan perkembangan terhambat ; Dwarfisme (cebol)

d. Marasmus

e. Kwashiorkor

f. Diare

g. Nafsu makan atau meminum susu kurang

h. Kelebihan makan ; obesitas

1. Menjelaskan kepada ibu bahwa bayi harus tercukupi kebutuhan nutrisinya dan menjelaskan kepada ibu dampak dari kekurangan nutrisi pada bayi

2. Menjelaskan kepada ibu tentang manfaat ASI dan kolostrum

3. Menerangkan kepada ibu mengenai pemberian ASI dan cara menyusui yang baik dan benar termasuk cara menyendawakan bayi

4. Menerangkan kepada ibu cara menyapih termasuk menerangkan pentingnya memperkenalkan makanan pengganti ASI pada umur 7-8 bulan.

5. Menjelaskan kepada ibu jika ditemukan malnutrisi pada bayinya, untuk segera dibawa kepada petugas kesehatan.

6. Amati dan evaluasi pemahaman ibu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar